Pacaran: Mata Rantai Belenggu Setan

Hal yang lebih menakutkan dari dosa aksi pacaran adalah konsekuensi masa depan. Pacaran bukan saja berhenti pada kelalaian dan dosa secara personal, namun juga menyangkut nasib nasab selanjutnya yang selama ini jarang disadari banyak orang.

Bagaimana korelasinya? Begini. Jodoh adalah cerminan diri. Bilamana si A ahli pacaran, maka yang akan didapatkan juga tak jauh beda. Istilahnya, ‘bekas’ pantasnya juga mendapatkan yang ‘bekas’. Jika kedua ‘bekas’ bertemu, maka yang dihasilkan kualitasnya juga tak jauh-jauh dari itu. Garis keturunannya juga akan sama, melanggengkan pacaran semasa hidupnya. Ironisnya, efek tidak hanya berhenti pada anak-anaknya, bahkan akan mampu menjalar hingga cucu cicitnya.

Hal itu senada dengan petikan ayat Alquran Surat Annur ayat 26:
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Artinya: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”

Ada sebuah cerita nyata yang mendukung argumentasi diatas. Ceritanya begini. Suatu malam, datanglah seorang ibu-ibu kepada seorang kyai dengan keperluan cukup penting. Karena padatnya kesibukan sang kyai, alhasil baru bisa menemuinya keesokan hari dan benar saja urusannya cukup genting. Seraya menangis sejadinya, ibu itu bercerita tentang nasib anak perempuannya yang (maaf) diperkosa hingga (akhirnya) hamil. Ibu itu tidak habis pikir mengapa bisa taqdir hina seperti ini menimpa keluarganya yang dipandangnya cukup terjaga. Akhirnya perbincangan berlanjut dan mulai diurut. Mencari akar masalah dari hubungan darah. Dan benar saja. Usut punya usut, bapak si gadis memang pernah terlibat percintaan dan ditengarai hingga mempermainkan perasaan pasangan (kala itu).

Apa yang dilakukan oleh bapak sang gadis memang telah terjadi jauh di masa lampau. Selain menanggung dosa masa lalu, sang ayah juga harus menerima kenyataan sang anaklah yang kini harus menanggung pilu. Jika sudah begini lalu siapa yang pantas malu?

Bisa jadi, dosa pacaran dianggap ringan karena dianggap hanya menjalin suatu hubungan yang dianggap tak berlebihan. Padahal, dosa pacaran ini kekal. Lalu apakah bisa menghapus mata rantai dosa pacaran ini? Caranya hanya satu, yakni taubat dengan penuh kesungguhan. Selanjutnya biarkan Allah yang menata nasib dan taqdir keluarga Anda di masa depan.

Wallahu A’lam

Penulis: Nunung Nasikhah

One thought on “Pacaran: Mata Rantai Belenggu Setan

  • October 5, 2017 at 11:58 pm
    Permalink

    Assalamu’ngalikum, salam santri salafy. Mohon maaf sebelumnya , saya mau bertanya tentang pacaran ini. Misalkan ada seorang santri yang pacaran dengan mbax santri, nah sangking demenya pacaran keduanya tersebut bersemangat sekali ketika saat bertolabul ‘lmi, terus bagaimana hukumnya pacaran yang membuat semangat ketika tolabul ‘lmi? . Terimakasih mohon maaf apabila ada kesalahan, summassalamu’ngalikum.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: