Catatan Pecandu Kerinduan

Oleh: Nunung Nasikhah Ni’am Ilyas

 

Aku menikmati setiap malam-malamku bersama kerinduan yang mencekam

Duduk ditepian ruang sendirian

Sesekali menatap gambar besar di bagian atas tanggalan

Disanalah fotomu dipajang dengan senyuman yang memicu sedu sedan

Abah

Tak rindukah engkau dengan meja-mejamu

Aku bahkan tak tahan melihatnya lusuh penuh debu

Teronggok dipojok mimbar sebab tak pernah lagi menyangga kitab-kitab tebalmu

Abah

Lucunya diriku yang rindu kemarahanmu

Saat dengan bodohnya ketakutan karena giliran ngi’rob nahwu

Iya Bah, santri goblok ini sakau

Kecanduan rindu suasana pondok empat tahun yang lalu

Abah

Kadang aku menertawakan diriku

Masa iya aku rindu menatakan sandalmu

Memimpikan memapahmu turun dari musholla menuju ruang tamu

Membawakan tongkat sambil kurang ajarnya mengelus-elus tanpa rasa malu

Abah

Ingatkah engkau pada suatu sore mengajakku

Menonton tayangan di TV LED sembari duduk menikmati pastel abon kesukaanmu

Lalu memanggilku dan menyuapkan sedikit sisamu

Ah, rasanya brebes mili setiap kali mengenang masa itu

Abah

Beberapa kali aku menggerutu

Pada Tuhan yang katanya serba tahu

Bagaimana bisa dalam setiap ujian-ujianku

Lancar menjawab hanya karena suwuk-mu tanpa harus belajar nggethu

Abah

Bisa jadi diantara ribuan santrimu

Akulah santri yang paling dungu

Glagapan setiap kali belajar shorof nahwu

Selalu hanya wacana mengamalkan niat ingsun mekso awak seperti dhawuhmu

Tapi Bah

Adakah candu rinduku ini dapat kau tahu

Aku laksana susu yang telah lama basi sebab lelah menunggumu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: