Resolusi Jihad, KH. Masykur Malang, dan Laskar Sabilillah-nya

Oleh : Indirijal Lutofa (Redaktur Pelaksana Nun Media)

Perjuangan Bangsa Indonasia untuk mencapai kemerdekaan, mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, namun perjuangan bukan berarti telah selesai. Hal ini berkaitan dengan masih adanya keinginan Belanda untuk berkuasa kembali di Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan sudah terlihat jelas ancaman yang dihadapi Indonesia adalah berasal dari luar, sementara pemerintah Indonesia belum membentuk organisasi pertahanan negara secara resmi (tentara). Hal inilah antara lain yang menjadi sebab munculnya berbagai organisasi perjuangan yang bersifat militer (laskar). Begitu sekiranya ungkapan Najib Jauhari dalam penelitiannya, Resolusi Jihad Dan Laskar Sabilillah Malang Dalam Perang Mempertahankan Kemerdekaan Surabaya 10 Nopember 1945.

Resolusi Jihad, Pembakar Semangat Juang

Najib melanjutkan bahwa Nahdlatul Ulama’ sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang terbesar di Indonesia, juga tanggap terhadap kondisi kedaulatan negara yang terancam. Kantor Pusat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang waktu itu berada di Jalan Bubutan IV Surabaya, menjadi sangat rentan terhadap ancaman akibat datangnya pasukan asing di Surabaya. Hal ini diperparah dengan perilaku dari pasukan asing yang menyinggung perasaan umat Islam (Suryanegara, 1998). Hingga akhirnya Rois Akbar Hadrotus Syeh KH. M. Hasyim Asy’ari membacakan sendiri hasil keputusan dan tanggapan organisasi Nahdlatul Ulama terhadap kondisi bangsa dan negara, yaitu Resolusi Jihad. Resolusi yang dibacakan pada tanggal 22 Oktober 1945 ini berisi pernyataan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan hukumnya adalah wajib ’ain bagi umat Islam, dan perang mempertahankan kemerdekaan adalah perang suci (Jihad Fi Sabilillah).

Dr. Zainul Milal Bizawie, dalam bukunya, Resolusi Jihad dan Laskar Ulama-Santri, memaparkan dengan panjang, bahwa bangunan jejaring ulama yang telah dibangun oleh Wali Songo dan generasi berikutnya telah menjahit simpul-simpul Ulama di seluruh nusantara. Dari waktu ke waktu perjuangan para ulama atau Kiai tersebut secara turun-temurun terus dilestarikan khususnya di kalangan pesantren dan Nahdlatul Ulama sejak zaman penjajahan Belanda. Sejumlah nama telah berperan aktif dalam perjuangan seperti Rois Akbar NU KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah,KH. Mahfudz Siddiq, KH. Maksum Lasem dan ulama lainnya.

Perjuangan mengangkat senjata oleh para Kiai juga terlihat. Lanjut paparan Zainul Milal Bizawie, dalam perlawanan KH. Zainal Mustofa dari pesantren Sukamanah pada tahun 1944, perlawanan ini sebenarnya sebagai prolog dari perlawanan di daerah lain, Cirebon, Cianjur, hingga Blitar atau yang terkenal dengan pemberontakan Supriyadi Blitar. Juga peran KH. Abas di Cirebon dalam melawan Jepang dan KH. Ruhiat Cipasung yang pesantrennya pernah di brondong Belanda pada masa revolusi dan beliau dipenjara lebih dari dua kali.

Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah menjadi bukti historis yang tidak terbantahkan dalam membela RI. Di antara mereka yang muncul KH. Maskur dan KH. Zainal Arifin, KH. Muhammad Hasyim Latif dan KH. Munasir Ali. Adalah KH. Wahid Hasyim dan KH. Maskur yang terlibat secara Intens proses terwujudnya kemerdekaan RI bersama Soekarno, Hatta, Syahrir, Haji Agus Salim, KH. Kahar Muzakir, KH. Mas Mansyur, dan lainnya.

Peran serta para Kiai dalam membakar semangat dan moril terlihat ketika berusaha memaknai perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fisabilillah. Sebuah fatwa jihad terlebih dahulu beredar sebelum lahirnya resolusi jihad yang diputuskan lewat rapat para Kiai di Surabaya. Fatwa yang ringkasannya dimuat di dalam harian kedaulatan rakyat pada 20 November 1945 ditandatangani Hasyim Asy’ari pada 17 september 1945 fatwa tersebut diantaranya berbunyi, (1) hukumnya memerangi orang kafir yang merintangi kepada kemerdekaan kita sekarang ini adalah fardhu ain bagi setiap orang Islam yang mungkin meskipun bagi orang kafir, (2) hukumnya orang yang meninggal dalam peperangan melawan meja serta komplotan komplotannya adalah mati syahid, (3) hukumnya orang yang memecah persatuanan kita sekarang ini wajib dibunuh.

Berpijak pada fatwa jihad ini kemudian dikukuhkan oleh sebuah rapat para Kiai pada tanggal 21-22 Oktober 1945. Mereka adalah perwakilan Nahdlatul Ulama se Jawa dan Madura yang berkumpul di Kantor Hofdsbestuur Nahdlatul ulama atau HBNU yang sekarang Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jalan Bubutan VI No 2 Surabaya.

Masih mengacu pada buku karya Zainul Milal Bizawie, bahwa di tempat inilah, kantor HBNU, para Kiai berkesempatan untuk membahas situasi perjuangan dan membicarakan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di akhir pertemuan tersebut, Pengurus Besarsar Nahdlatul Ulama mengeluarkan sebuah resolusi jihad sekaligus menguatkan fatwa jihad Rois Akbar NU KH. Hasyim Asy’ari.

Situasi Surabaya dan sekitarnya pasca tercetusnya fatwa maupun resolusi jihad diwarnai dengan ketegangan dan sesekali baku tembak antara pejuang dengan pihak Inggris. Himpunan para Kiai bahwa perjuangan membela kemerdekaan Republik adalah sebagai bentuk dari jihad perang Suci begitu efektif untuk membakar semangat juang. Mereka berjuang melawan Inggris dan Belanda tidak sekedar dimaknai sebagai perjuangan untuk membela kemerdekaan semata namun merupakan salah satu cara dan tindakan untuk membela agama Allah. Pemahaman seperti ini paralel dengan apa yang diungkapkan KH. Wahid Hasyim bahwa motif agama Islam akan menjadi sesuatu atau media yang efektif dan ampuh untuk membangkitkan semangat pembelaan terhadap negara.

Pertemuan para konsul berlangsung 2 hari, 21-22 Oktober 1945 di kantor PBNU di Bubutan Surabaya selain dihadiri para konsul NU Jawa dan Madura, pertemuan juga dihadiri Panglima Hizbullah KH. Zainul Arifin. Sebelumnya Presiden Soekarno telah menemui KH. Hasyim Asy’ari untuk menanyakan tentang hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam. Menanggapi pertanyaan itu Kiai Haji Hasyim Asy’ari memberi jawaban tegas bahwa sudah terang bagi umat Islam Indonesia untuk melakukan pembelaan terhadap tanah airnya dari bahaya dan ancaman kekuatan asing.

Terdapat perbedaan mengenai siapa yang memimpin rapat konsul NU itu. Hasyim Latief, seorang yang terlibat langsung dalam pertempuran pertempuran Surabaya menyatakan yang memimpin rapat adalah KH. Wahab Hasbullah. Khairul Anam menyebutkan KH. Hasyim Asy’ari yang memimpin rapat penting itu terlepas Siapa sebenarnya yang memimpin pertemuan di tengah suasana genting yang menghinggapi Surabaya tersebut disepakati satu keputusan penting mengenai resolusi jihad bagi umat Islam Indonesia resolusi jihad KH. Hasyim Asy’ari selaku pimpinan tertinggi NU keputusan untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme.

Resolusi jihad ini menjadi pegangan bagi kalangan Islam dalam melakukan perjuangan menghadapi NICA Belanda dan pasukan Inggris konsul konsul yang hadir dalam pertemuan dibubuhkan itu juga memiliki tugas dan amanah untuk menyebarkan revolusi ini kepada umat Islam di daerahnya masing-masing salinan keputusan resolusi jihad ini juga dikirimkan kepada Presiden Soekarno pimpinan Angkatan perang Indonesia dan kepada markas tinggi Hizbullah fisabilillah

Pada kenyataannya, resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 menjadi pegangan spiritual bagi sebagian besar Pemuda dan pejuang di Surabaya dalam mengorbankan semangat perlawanan. Tidak hanya untuk badan perjuangan di Surabaya dan Jawa Timur, resolusi ini juga menyebar dan menjadi pegangan moral bagi badan perjuangan Islam di Jawa dan Madura. Kombinasi antara bekal fatwa para ulama dan Kiai NU dengan kesadaran sebagai bangsa membuat semangat perlawanan yang muncul menjadi begitu kuat.

Dampak dari resolusi jihad ini luar biasa. Pergolakan awal di Surabaya berlangsung dengan begitu heroik dan sengit sehingga nyaris membuat pasukan Inggris habis sama sekali. Selain itu kekuatan para pejuang yang sudah sangat solid dan padu kemudian mendapatkan tambahan dengan hadirnya badan-badan perjuangan baik dari kalangan Islam dari luar kota Surabaya yang datang ke kota ini untuk bersama-sama menghadapi Inggris.

Para kiai bergabung dengan hizbullah, fisabilillah, dan badan-badan perjuangan lainnya. Bahkan tidak hanya datang dari kawasan Jawa Timur saja tetapi banyak kesatuan Hizbullah laskar-laskar dan para santri dari pesantren pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Barat hadir dan memperkuat barisan pertahanan para pejuang di Surabaya.

Salah satu nama penting dalam perjuangan kebangsaan yang perlu dicatat adalah Kiai Masykur. Bersama para kiai lain, Kiai Masykur menjadi komando laskar kiai, yakni Laskar Sabilillah. Dalam catatan militer dan perjuangan bangsa, Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah memiliki sumbangsih besar untuk mengawal kemerdekan Indonesia.

Sekilas tentang KH. Masykur

Dalam karya Dr. Zainul Milal Bizawie yang lain, Masterpiece Islam Nusantara, ia memuat sekilas tentang profil KH. Maskur Maksum, panglima Laskar Sabilillah, ia merupakan santri pesantren Bangkalan dan Tebuireng. Dilahirkan di Singosari Malang 1315 H / 30 Desember 1899 M dan wafat 19 Desember 1992. Ayahnya, Maksum adalah seorang perantauan yang berasal dari sebuah dusun di kaki gunung Muria Kudus Jawa Tengah. Ia datang ke Singosari memenuhi perintah ibunya untuk mencari ayahnya yang pergi meninggalkan kampung halaman. Meski tidak ditemukan, Maksum bertekad tetap menetap di Malang dan nyantri kepada Kiai Rohim hingga diambil menantu. Semangat ayahnya itulah yang menggerakkan Kiai Maskur sejak masa mudanya banyak Merantau dari pesantren ke Pesantren.

Lebih lengkap, Munawwir Aziz dalam bukunya, Pahlawan Santri,  pada usia sembilan tahun, Masykur kecil diajak orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci. Sekembali dari Makkah-Madinah, ia disekolahkan di Pondok Pesantren Bungkuk, pimpinan KH. Thahir. Kemudian, ia melanjutkan nyantri di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo. Di pesantren ini, Masykur kecil mempelajari ilmu nahwu sharaf. Selang empat tahun kemudian, ia mengaji di pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo untuk mendalami ilmu fiqh.

Setelah berpetualang di beberapa pesantren, Masykur muda kemudian mendekat ke Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari (1875-1947). Di pesantren Tebu Ireng, Jombang, ia belajar ilmu tafsir dan hadits. Setelah merampungkan mengaji di Tebu Ireng, Kiai Masykur kemudian melanjutkan tabarrukan ke pesantren Bangkalan, Madura, untuk mengaji Qiraat al-Qur’an kepada Syaichona Cholil.

Minat belajar Kiai Masykur tidak berhenti di tanah Madura. Setelah suntuk belajar di bawah asuhan Syaichona Cholil, Kiai Masykur kemudian meneruskan mengaji di pesantren Jamsaren Solo, Jawa Tengah. Selepas merampungkan mengaji di  Jamsaren, Kiai Masykur kemudian memantabkan kaki untuk mengabdi di tanah kelahirannya, di Singosari Malang. Di Singosari, Kiai Masykuri mendirikan madrasah bernama Mishbahul Wathan atau Pelita Tanah Air.

Kiai Masykur menikah pada 1923, dengan cucu KH. Tahir, gurunya di pesantren Bungkuk, Malang. Di usia 16 tahun pernikahan mereka, sang istri meninggal dan belum dikaruniai keturunan. Atas saran Kiai Khalil Genteng, Kiai Masykur kemudian menikahi adik istrinya, bernama Fatimah. Sejak saat itulah, pasangan dari keluarga pesantren inilah, kemudian bersama-sama mengabdi dan berjuang untuk syiar Islam.

Dalam Masterpiece Islam Nusantra-nya, Zainul Milal Bizawie melanjutkan, bahwa di Singosari, KH. Masykur membuka pesantren yang diberi nama Misbahul Waton (Pelita Tanah Air) pada tahun 1923. Beberapa tahun berikutnya ketika Nahdlatul Ulama berdiri, iapun aktif di dalamnya dan pada tahun 1932 menjadi ketua cabang NU kota Malang. Di organisasi tersebut ia sering meminta nasihat kepada Kiai Wahab Hasbullah. Salah satunya ketika pesantrennya sering mendapat gangguan dari pemerintah kolonial. Atas saran Kiai Wahab yang kemudian mengganti nama pesantren yang menjadi Nahdatul Waton (Kebangkitan Tanah Air). Sebelumnya, bersama Kiai Wahab , Kiai Masykur sering mengikuti kegiatan kelompok Taswirul Afkar. Pada tahun 1938, Kiai Maskur diangkat sebagai salah satu pengurus besar NU yang berkedudukan pusat di Surabaya.

Sebelum menjadi Panglima barisan Sabilillah , ia menjadi Anggota Barisan Pelajar (Sim Sim Tai), dan pendiri Pembela Tanah Air (PETA). Ketika menjadi panglima barisan Sabilillah Ia memiliki divisi di 14 provinsi serta pernah bertempur secara gerilya di bawah komando Panglima Besar Jenderal Sudirman. Jabatan Ketua Markas Tertinggi Sabilillah diamanahkan kepada dirinya pada tahun 1945-1947. Pada masa Mr Amir Syarifuddin, ia ditunjuk secara resmi untuk menjadi anggota Badan Pembela Pertahanan Negara. Banyak perjuangan lain demi mengabdi pada negara, bahkan dirinya juga tercatat pernah menjabat sebagai seorang menteri agama hingga 4 kabinet. Dimakamkan di pemakaman yang terletak di Kompleks Masjid Bungkuk Singosari Malang yang juga terdapat makam KH. Nachrowi Tohir (pimpinan Hizbullah Malang ketika Perang 10 November 1945) dan Kiai Tohir (mertuanya Kiai Masykur).

Laskar Sabilillah Berjuang di bawah Komando KH. Masykur

Najib Jauhari dalam paparan penelitiannya, organisasi persatuan umat Islam yang juga aktif pada waktu itu adalah Majelis Syoero Moeslimin Indonesia (Masjoemi). Organisasi ini juga tanggap atas situasi dan kondisi bangsa dan negara Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Salah satu keputusan dalam kongres Masjoemi di Jogjakarta pada tanggal 7—8 Nopember 1945 adalah membentuk Barisan Sabilill ah (Merdeka, 9 Nop. 1945: 2). Barisan atau laskar Sabilillah ditujukan untuk menampung aspirasi umat Islam secara keseluruhan, dalam usaha-usaha pembelaan dan pertahanan bangsa, negara dan agama.

Kedaulatan Rakjat, koran yang terbit di Jogjakarta memberitakan Muktamar Umat Islam (Kongres Masjoemi) itu sebagai berita utamanya, pada terbitan hari Jum’at, tanggal 9 Nopember 1945. Judul beritanya adalah 60 Miljoen Kaoem Moeslimin Indonesia Siap Berdjihad Fi Sabilillah, Perang didjalan Allah oentoek menentang tiap-tiap pendjadjahan, Partai Masjoemi sebagai badan perdjoeangan politik oemmat Islam. Keputusan hasil muktamar juga dimuat dalam penerbitan koran diwaktu tersebut.

Masykur dalam Laskar Sabilillah ialah merupakan Panglima besar dari Laskar tersebut, dan juga menjadi anggota dewan pertahanan negara merangkap Dewan kelaskaran. Hal ini ditujukan agar Laskar di bawah organisasi Masyumi ( Hizbullah, Sabilillah, dan Mujahidin) dapat lebih mudah dikonsolidasi dalam bidang perjuangan.

Dalam penelitian orang lain, MA. Dimyati, disebutkan bahawa peran KH. Masykur dalam Laskar Sabilillah atau Barisan Sabilillah ialah sangat central karena disamping menjadi pimpinan Laskar tesebut beliau juga berperan sebagai komandan Masyumi bagian pembelaan. Beliau di tunjuk oleh Masyumi karena percaya beliau memang sudah berpengalaman, sejak zaman Jepang memimpin Barisan Hizbullah dan dalam kenyataannya baliau memang ditaati oleh para anak buahnya yang sebagian besar terdiri dari pemuda santri dari berbagai pesantren. Beliau juga sering mengadakan perjalanan berkeliling kedaerah-daerah untuk membangun markas dan juga menghimpun kekuatan. Sosok beliau yang kharismatik membuat beliau sangat disegani oleh bawahan-bawahannya, meski begitu baliau juga ikut membimbing serta menuntun dan mengarahkan para santri dan Kiai-Kiai serta Ulama’ dalam berperang semboyan mereka ialah Iskariiman au mut syahiidan. Hidup merdeka berbahagia atau mati syahid.

Seacara lengkap, Munawir Aziz, dalam buku Pahlawan Santri-nya, memaparkan berikut ini, bahwa tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), yang bertugas melucuti senjata tentara Jepang. Akan tetapi, misi tentara Sekutu dalam AFNEI, ditunggangi kepentingan NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Tentara NICA bertujuan untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda, sebagai jajahan Hindia Belanda. Tentu saja, hal ini mengobarkan kemarahan penduduk Indonesia, terutama mereka yang berdiam di kawasan Jawa Timur.

Para kiai pesantren yang selama ini berjuang untuk kemerdekaan, merapatkan barisan. Di antaranya, KH. Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Wahab Chasbullah (1888-1971), Kiai Mas Mansyur, Bung Tomo (1920-1981) serta pejuang nasiolis Roeslan Abdul Ghani (1914-2005), dan Dul Arnowo, seorang arek Suroboyo. Laskar Sabilillah di bawah komando Kiai Masykur segera merapatkan barisan, juga laskar Hizbullah pimpinan Kiai Zainul Arifin. Kiai Wahab Chasbullah mengonsolidasi barisan pemuda santri dalam Laskar Mujahidin.

Ketika menjelang pertemupuran 10 November 1945, barisan laskar dari Malang bergerak cepat menuju Surabaya. Pasukan dari Malang, terutama TKR Resimen 38 Kompi Sochifuddin dan Kompi III dengan kapten M. Bakri, bergerak bersama-sama penduduk yang berjuang dengan api semangat menyala. Laskar Hizbullah berangkat ke medan perang, di bawah komando KH. Nawawi Thohir dan Abbas Sato dengan jumlah 168 pasukan. Laskar Sabilillah dari Malang juga mengonsolidasi barisan. Para Kiai ikut berjuang di bawah pimpinan Panglima Divisi Untung Suropati, Jenderal Imam Soedjai

Pada pertempuran Surabaya, strategi militer digunakan oleh para komando laskar. Pertempuran terbagi dalam beberapa sektor. Daerah pertahanan Laskar Sabilillah berada di sektor tengah garis kedua, yang berada di depan Stasiun Gubeng dan Jalan Pemuda. Kawasan ini, dipertahankan oleh Laskar Sabilillah bersama Laskar Hizbullah dan TKR Malang.

Di tengah deru pertempuran di Surabaya, KH. Masykur dengan gigih mengomando barisan Laskar Hizbullah. Para laskar yang ikut berjuang pada perang Surabaya, bertekad bulat dengan niat: isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Api semangat para santri dan laskar-laskar pemuda inilah, yang kemudian membakar perjuangan rakyat di Surabaya hingga kemudian—atas izin Allah—berhasil mengalahkan tentara sekutu yang ingin merampas kemerdekaan negeri. Di panggung perjuangan rakyat inilah, Kiai Masykur mencatatkan pengabdiannya bersama para kiai-santri lainnya untuk mengawal kemerdekaan negeri.

Sumber :

Najib Jauhari. Resolusi Jihad Dan Laskar Sabilillah Malang Dalam Perang Mempertahankan Kemerdekaan Surabaya 10 Nopember 1945. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. MA Dimyati. KH. Masjskur dalam Laskar Sabilillah (19945-1949). Thesis UIN Sunan Ampel Surabaya. 2014

Munawir Aziz. Pahlawan Santri: Tulang Punggung Pergerakan Nasional. Jakarta. Pustaka Compass. 2016

Zainul Milal Bizawie. Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945). Jakarta. Pustaka Compass.2014

Zainul Milal Bizawie. Resolusi Jihad dan Laskar Ulama-Santri : Garda Depan Menegakan Indonesia (1945-1949). Jakarta. Pustaka Compass.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: