Muharram dalam Perspektif Newton

Tahun Hijriyah mulai digunakan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA yaitu, 6 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Tahun Hijriyah menjadi tanda peristiwa hijrahnya nabi Muhammad SAW dari mekah ke madinah, tepatnya tahun 622 setelah Masehi. Tahun Hijriyah menyampaikan makna kemajuan dan  adanya sejarah besar umat Islam. Kemuliaan bulan Muharram sebagai pembuka tahun Hijriyah diisi dengan rentetan sejarah besar umat Islam, Yahudi, dan Nasrani. Tahun Hijriyah menjadi kebanggan umat Islam yang sampai saat ini selalu dirayakan dengan amalan-amalan ataupun serangkaian acara sebagai rasa syukur dan introspeksi diri.

Islam mengajarkan agar kita selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari, Muharram menjadi momentum terbaik untuk berbenah diri. Mengutip hadits Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مَثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ خَاسِرٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ هَالِكٌ

“Barangsiapa yang harinya lebih baik dari kemarin maka beruntung, barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka merugi, dan barangsiapa yang harinya lebih buruk dari kemarin maka celaka.”

Newton menyampaikan sebuah teori bahwa suatu benda akan tetap diam atau bergerak dengan kelajuan konstan apabila tidak ada gaya dari luar yang mempengaruhinya. Muharram merupakan awal tahun Hijriyah, sehingga kita dapat mengasumsikan bahwa amalan-amalan di bulan Muharram sebagai keadaan awal suatu benda yang bergerak dengan kelajuan tertentu.  Sementara umat Islam merupakan representasi dari benda yang diam atau bergerak dengan kelajuan tertentu yang konstan. Selanjutnya, berdasarkan teori newton, umat Islam yang membuka tahun baru Hijriyah dengan berpuasa akan cenderung mempertahankan keadaannya dengan banyak berpuasa pada bulan-bulan selanjutnya. Begitu pula dapat diqiyaskan dengan amalan-amalan kebaikan lainnya.

Teori yang dikemukakan oleh newton diperkuat oleh Al-Qurtubi di dalam kitab Ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim karya As-Suyuthi yang menjelaskan:

إِنَّمَا كَانَ صَوْمُ اْلمُحَرَّمِ أَفْضَلَ الصِّيَامِ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ أَوَّلُ السَّنَةِ الْمُسْتَأْنِفَةِ فَكَانَ إسْتِفْتَاحُهَا بِالصَّوْمِ الَّذِي هُوَ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ

Artinya, “Puasa Muharram lebih utama dikarenakan awal tahun. Alangkah baiknya mengawali tahun baru dengan berpuasa, sebab puasa termasuk amalan yang paling utama.”

Memperbanyak puasa di bulan Muharram disunnahkan, karena ia merupakan pembuka tahun baru. Seyogyanya tahun baru dihiasi dengan amal shaleh dan puasa termasuk amalan yang paling utama. Tentu harapannya, di bulan selanjutnya, menjalankan ibadah puasa sunnah ini tetap dilakukan dan tidak berhenti sampai akhir bulan Muharram.

Formulasi hukum pertama newton yang menyatakan  memiliki syarat selama tidak ada gaya dari luar yang mempengaruhinya. Jika sebelumnya kita mengasumsikan keadaan awal sebagai amalan-amalan kebaikan yang sedang kita tanamkan dan umat Islam sebagai benda atau partikel tersebut, maka kita juga harus mengenali gaya apa saja yang mempengaruhi kondisi awal yang merepresentasikan dari faktor-faktor yang mempengaruhi amalan-amalan yang sedang kita tanamkan. Di dalam fisika kita tahu bahwa gaya dari luar dapat berupa tarikan maupun dorongan. Partikel dapat bergerak lebih cepat atau justru berhenti akibat adanya gaya dari luar. Sehingga hiasan amalan-amalan yang kita tanamkan dapat meningkat atau malah berhenti mengamalkannya akibat adanya faktor-faktor tertentu.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fluktuasi iman dan hati manusia. Diantara faktor yang dapat mempengaruhi fluktuasi iman dan hati adalah berkaitan halal dan haramnya makanan yang dikonsumsi. Menkonsumsi makanan yang haram tidak hanya berdampak pada hati dan dan akalnya semata, namun juga dapat mengurangi iman manusia. Hal ini sesuai dengan hadits :

“Tidaklah peminum khamr, ketika ia meminum khamr termasuk seorang mukmin“ (HR Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa Muharram merupakan momentum yang tepat untuk menghiasi diri dengan amalan-amalan shaleh. Dengan harapan amalan-amalan yang kita tanamkan diawal tahun akan menjadi kebiasaan yang terus terbawa sepanjang tahun selanjutnya. Hal ini akan terlaksana apabila kita mampu menjaga kehalalan asupan-asupan yang kita cerna dan faktor lain yang menyebabkan melemahnya iman. Hal ini sesuai dengan hukum satu newton yang menyatakan bahwa sebuah partikel atau benda akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan konstan selama tidak ada gaya dari luar yang mempengaruhinya.

Oleh : Wandi Anwas (Anggota Tim Redaksi Nun Media)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: