Momentum Husnul Khotimah

Alkisah dalam sebuah pemerintahan Republik of Muawiyah dijelaskan bahwasanya negara dapat dikatakan kondisif dan nyaman bisa dilihat dari 4 aspek  strata sosial yang saling berkaitan:

Pertama, terdapatnya alim ulama/cendakiwan yang mengabdikan diri pada prilaku amar ma’ruf nahi munkar.

Kedua, terselenggaranya kepemimpinan dan pemerintahan yang adil dan beradab terhadap masyarakatnya dan kesamaan hak serta kewajiban di hadapan hukum yang berlaku di masyarakat.

Ketiga, kesanggupan dan ketersediaanya para orang kaya yang senang berdarma bakti bagi sosial, dalam wujud sedekah, berzakat, dan lain-lain.

Keempat, ketersediaannya mereka kaum fakir miskin yang senantiasa senang berdoa kepada Tuhan dalam hidup yang serba minim . Meskipun yang terakhir ini kiranya sulit kita jumpai. Jangankan sekadar berdoa, untuk tidak berbuat curang saja sulit. Makanya terkadang ada saja pandangan stereotip untuk mereka bahwa hidup di bawah garis kemiskinan merupakan suatu hal yang rawan untul berbuat yang serba tidak baik.

Meskipun demikian, dalam sistem Pemerintahan Sang Muawiyah yang dalam kisah ini disebut Pak Qadhi, kategori orang miskin, janda maupun anak yang terlantar dipelihara oleh negara, yang dalam hal ini diurusi oleh bagian pemerintahan yang bernama lembaga baitul maal.

Alkisah di suatu siang hari yang cerah terdapat Pak Pakir yang lapor kepada petugas baitul maal bahwa dirinya beserta ketiga anaknya yang dirumah belum makan sama sekali. Selama tepat terhitung tiga hari, ia lapor. Karena bermaksud untuk mengambil haknya selaku orang miskin, maka Pak Pakir pun mengutarakan 3 keinginannya kepada si petugas.

Assalamualaikum pak, saya lapor belum makan 3 hari, maka dari itu saya hendak meminta belas kasihan bapak untuk memberi saya makan berupa 10 potong daging kambing, segalon air minum dan uang 30.000 rofi’ah,” lapor Pak Pakir kepada Pak Qadhi. Rofi’ah adalah mata uang resmi dinasti Pak Qadhi.

Pak Qadhi menjawab ,“Waalikum salam wa rahmatullahi wabarakatuh wa maghfiruh waridwanuh, oh iya… iyaa… pak iya, nanti saja ya pak. Bapak silakan datang lagi setelah sholat dhuhur,biar kami siapkan berkas pengambilannya”

Setelah dirasa puas permintaanya dirasa sudah masuk audit, maka pulanglah si gembel ini ke rumah dan disambut riuh rendah suara anak-anaknya yang penuh akan harapan.

“Yeee yeee bapak pulang, yee…yeee..makan-makan, uyeee…kita kenyang, mana pak makananya,dapat uang? Kita makan kapan?” Begitu riyang gembiranya sang anak sembari menannyai terus sang bapak. Lantas si bapak pun bilang bahwa nanti bisa diambil setelah sholat dhuhur.

Begitu waktu dhuhur tiba, Pak Pakir sholat dhuhur berjamaah di rumah. Setalah itu, Pak pakir pun tanpa basa-basi bahkan wiridanpun luput dari mulutnya, langsung cus pergi dan lari sipat kuping menuju kantor baitul maal demi kewajiban menafkahi keluarganya meskipun hanya mampu meminta.

Setibanya di kantor baitul maal, iapun dihimbau untuk bersabar dulu menunggu sampai setelah sholat ashar.

“Assalamualaikum pak, saya yang tadi siang  lapor belum makan 3 hari, maka dari itu saya hendak meminta belas kasihan bapak kembali untuk memberi saya makan berupa 10 potong daging kambing, segalon air minum dan uang 30.000 rofi’ah”

“Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wabarakatuh wa maghfirotuhu waridwanuh, oh iya, iyaa, pak iya, nanti saja ya pak. Bapak silakan datang lagi setelah sholat ashar, biar kami siapkan berkas pengambilannya dulu”

Hatinya pun mulai timbul sedikit rasa kecewa. Sembari memandang pintu exite, ia pun lantas melangkahkan kaki kembali pulang menuju rumah yang berjarak 17 kilo dari kantor baitulmal. Bagaimanapun juga berjalan merupakan suatu yang real biasa dilakukan para kaum marginal miskin kota.

Sesampainya ia dirumah, ia pun dihajar oleh beraneka ragam pertanyaan dari ketiga anaknya. Ia pun menjawab agak sedikit resah dan bernada tinggi.

” Sssstttt….!!! Diam sebentar biar bapak jelaskan! Kalian sabar sejenak, bapak pegawai qadhi menyuruh bapak datang lagi nanti sehabis ashar. Jadi bapak harap kalian tahan dulu lapar kalian kuat-kuatya nak”. Dasar orang kecil, keinginan kecil cita-cita pun mungil, dalam hal menahan merekalah juaranya. Jangankan sekadar menahan lapar, menahan diri untuk bisa tidak sekolah pun mereka mampu, apalagi untuk sekadar rebutan jatah jajan jabatan.

Sore hari menjelang senja, ia datang dan sengaja sedikit telat dari waktu janjian. Dengan harapan setibanya pak pakir di sana ia telah disambut pegawai Pak Qadhi dengan harapannya yang telah terpenuhi. “Assalamualaikum pak, saya yang tadi dhuhur  lapor belum makan 3 hari, maka dari itu saya hendak meminta belas kasihan bapak kembali untuk memberi saya makan berupa 10 potong daging kambing, segalon air minum dan uang 30.000 rofi’ah”

“Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wabarakatuh wa maghfirotuhu waridwanuh, oh iya, iyaa, pak iya, nanti saja ya pak. Bapak silakan datang lagi setelah sholat magrib ya,biar kami benar2 siapkan berkas pengambilannya dulu”

Karena dasarnya Pak Pakir merupakan masyarakat awam biasa, yang hidup serba apa adanya yang dalam perjalanann hidupnya tak pernah mengenal dan menerapkan aturan sistematis birokratif dalam hidupnya, ia pun merasa kagum juga gemes akan adanya sistem birokrasi administratif meskipun menyangkut belum/sudahnya makan.

Karena memang tidak berniat untuk pulang sebelum menang, Pak Pakir pun berjalan menuju pasar dan hendak menungguinya di sana, ketimbang menunggu dirumah dan mengharuskan matanya melihat ketiga anaknya yang piatu itu bercanda layu akibat derita perut, syaraf dari telinganya yang tembus menuju hati tak sanggup menjangkau papanya perasaan si bapak mendengar kata lapar yang keluar dari setiap anak-anaknya.

Adzan maghrib berkumandangan lantas redup dan disusul lenggak lenggok nada sumbang Wak Durohman melantunkan puja-pujian, hingga melengkingnya nada iqamah si empu. Seusai salam kedua dari sang imam sholat magrib, Pak Pakir pun lantas kembali lari mengeluarkan aji sipat kuping menuju kantor baitul mal hendak melapor yang ke sekian kali.

“Assalamualaikum pak, saya yang tadi sore  lapor belum makan 3 hari, maka dari itu saya hendak meminta belas kasihan bapak kembali untuk memberi saya makan berupa 10 potong daging kambing, segalon air minum dan uang 30.000 rofi’ah”

“Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wabarakatuh wa maghfirotuhu waridwanuh, oh iya, iyaa, pak iya, nanti saja ya pak. Bapak silakan datang lagi besok saja ya pak, ini udah mau tutup kantornya sambil biar kami siapkan dulu berkas pengambilannya dulu ya.”

“Terimakasih”, jawab singkat Pak Pakir.

Pecah hatinya, matanyapun sayu memandang menuju pasar dengan pandangan kosong. “Bagaimana aku bisa pulang? Sementara untuk mengelak dari permintaanlapar dari darah dagingku sendiri aku tak mampu? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Andaikan nguli, tubuhku mampu, niscaya akan kulakukan”

“Wahai saudaraku, ada masalah apa kiranya dirimu? Ceritakanlah kepadaku?” tiba-tiba terdengar suara di samping bedak sayur yang telah kosong. Karena cahaya bulan muda yang tidak menjangkau, maka mendekatlah Pak Pakir menuju bedak sayur tesebut. Dan didapatinya seorang nonmuslim yang lagi asyik minum wine sendiri. Karena Pak Pakir tau bahwa orang yang ia temui ini tak sealiran agamanya, lantas ia urungkan niatmya bercerita tentang masalah hidupnya.

Namun demikian si kafir yang masih setengah sadar itu pun mendesaknya agar mau bercerita, “ceritakanlah wahai saudaraku apa kiranya yang membiatmu tak tenang? Demi Allah aku akan mendengarkanmu!”, 

Karena terdengar ia sedikit marah, lantas Pak Pakir pun menceritakan permaslahan yang tengah ia hadapi masalah kelaparan yang tak bisa terselesaikan dengan bekal yang telah ia miliki selaku manusia. Setelah berjam-jam si kafir begitu tekun mendengarkan cerita, ia pun bertanya pada Pak Pakir, “hari ini hari apa menurut agamamu? Sehingga kamu begitu bersemangat meminta hakmu kepada baitul mal?”

“Hari ini adalah hari ke-10 muharam yang dalam agamaku disebut asyura'”

“Lantas apa istimewanya hari tersbut menurut agamamu?” sambil ia tenggak kembali wine di tangan kirinya, ia pun bersiap-siap menyimak dari Pak Pakir yang semenjak itu menjadi sahabatnya.

“Hari ini merupakan salah satu hari dari sekian banyak hari yang diistimewakan oleh Tuhanku wahai sahabatku, dimana hari ini baráng siapa yáng melakukan amal baik, maka Tuhanku memberikan berbagai fadhilah serta pahala yang tidak seperti hari-hari biasanya”

“Oh begitu ya, hemmmbt”, si kafir terdiam sejenak lantas ia lanjutkan bicaranya, “baiklah kalau demikian, maka akan ku kabulkan permintaanmu seperti permintaan yang telah kau ajukan kepada pegawai Pak Qadhi itu”

Sambil terheran-heran ia lantas mencegah si  kafir,“ loh kenapa kamu hendak membantuku wahai saudaraku? padahal kita tak sealiran?”

“Aku hanya ingin menghormatimu, karena kamu adalah sahabatku dan beginilah caraku menghormatimu dengan juga menghargai dan menghormati hari istimewamu, serta menghargai makna yang terkandung dari hari baikmu, maka dari detik ini juga akan ku ajak kau kerumah dan ku ambilkan tidak cuma 10 potong daging, tapi 10 ekor kambing, tidak saja kuberi 30.000 rupfi’ah, melainkan 300.000 perbulan, silakan datang kerumah wahai saudaraku”

Betapa bahagianya seketika itu Pak Pakir, dan malam itu juga lantas ia beregas pulamg sambil tergopoh-gopoh membawa 10 ekor kambing dan kantung celananya penuh dengan uang 300.000 rupfi’ah dengan pecahan nominal 1000-an.

Dan malam itu juga sang pegawai dari baitul mal bermimpi. Dalam mimpinya, ia dibopong dan disambut oleh malaikat Ridwan memasuki pintu gerbang sorga. Setelah sang pegawai masuk, di halaman rumah yang di dalamnya begitu banyak mahasiswi quratul ‘ain yang begitu centil nan cantik tertawa riang menggoda silih berganti mengintip dari balik jendela kaca sambil tersipu. Lantas ia pun mendekati salah satu rumah yang menurutnya banyak bidadari yang ia rasa pas baginya.

Belum lama ia injakkan kaki pada anak tangga ke-7, dari sekian puluh anak tangga, ia dibentak dari dalam oleh empunya rumah,” stoop! Wahai pak pegawai penjabat pemerintah yang aku hormati, sesumgguhnya rumah dan seisinya ini adalah milikmu, namun ketahuilah pak pegawai penjabat pemerintah yang mulia, rumah ini telah disegel orang lain. Maka kuharamkan kau memasuki rumah ini”

“Wahai adik, kenapa kiranya jika ini sejatinya adalah jatahku lantas kau segel? Dan kau haramkan aku memasukinya?”

“Rumah dan seisinya ini telah disegel dan sebenarnya akan diperuntukkan kepada orang kafir yang telah menolong Pak Pakir, beserta keluarganya yang tengah dilanda kelaparan”

Seketika itu lantas sang pegawai tersebut terbangun dari tidurnya. Sambil menangis tersedu sedan, lari keluar rumah dalam kehidupan nyatanya dan pergi mencari rumah si kafir yang telah menolong Pak Pakir dalam mimpinya tadi. Setelah melewati pasar , dari samping kiri pasar ia menemukan seorang yang lagi asyik mabuk-mabukan yang mirip dalam mimpinya tadi. Lantas ia introgasi si pemabuk itu habis-habisan:

“Wahai asfalassafilin, siapakah sesungguhnya dirimu? Apa saja perbuatan baikmu selama ini? Ayo jawab! Sebelum ku giring kau ke hotel prodeo”

“Wahai yang mulia bapak pegawai penjabat pemerintah, bapak ini sebenarnya ngomong apa? Cepat katakan apa saja kebiasaan baikmu selama ini padaku!! Wahai yang mulia, bukankah anda telah melihat sendiri bagaimana aku ini memegang botol weski ini apa belum jelas bagaimana kebiasaan burukku? Jika dari sini saja sudah terlihat betapa buruknya kebiasaanku minum-minum, buat apa pula yang mulia mengetahui perbuatan baikku yang jelas-jelas tak pernah berbuat baik, bagi kemaslahatan!”

“Bukan itu maksudku, hari ini kamu berbuat baik apa? Siapa yang kamu tolong tadi?”

Oh itu, itu tadi saya menolong sauradaku yang sedang mengalami kesulitan dan bahaya kelaparan, hanya itu saja”

“Baiklah wahai pemabuk, biarkan aku ganti kebaikanmu itu dengan uang sebesar 1 milyar secara tunai”

“Maaf yang mulia, tidak bisa”

“Kenapa tidak bisa?”

“Bagaimanapun juga ini adalah prinsipku, prinsip seorang bajingan yang tiada hari tanpa mabuk dan berjudi, prinsip orang hina yang mencoba memberi manfaat bagi sesama semampu saya, dan ini bukan sekadar nilai matematis. Ini adalah nilai kualitas hidup saya yang mungkin yang mulia anggap hina ini. Buat apalah tuan kiranya hidup ini jika tak berprinsip dan bermartabat tuan, sekalipun tuan beridealis tinggi namun tak bermartabat, bukankah hidup akan sia-sia tuan kalau hanya untuk nilai matematik rupfi’ah semata? Dan saksikanlah sendiri wahai tuan! ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ALLAH!!! WA ASYHHADU ANNA MUAHMMADAN RASUL LULLAH!!!

Oleh: Nizam Ubaidillah (Anggota Tim Redaksi Nun Media)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: