Mimpi 100 Tahun Indonesia (Semangat Hijrah: Semangat Revolusi Mental)

Momen Tahun Baru Hijriah, sebagaimana banyak disuarakan oleh banyak elemen, adalah momen pembaharuan segala aktivitas. Momen awal tahun ini dianggap sebagai tonggak revolusi segala macam aktivitas kehidupan, terutama revolusi jiwa-jiwa rapuh ummat Islam. Awal tahun, mengingatkan kita tentang sejarah Hijrah Rasulullah SAW ke Madinah dengan para pengikutya untuk membangun kembali semangat juang untuk menebar misi kemanusiaan yang sangat luar biasa. Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah bukan berarti beliau tidak mampu untuk menghadapi kekerasan hati dan akal mereka menerima misi kemanusiaan, tetapi lebih kepada untuk membangun semangat baru para pengikutya agar terus terjaga dalam bingkai keimanan.

Nampaknya, misi kemanusiaan yang ingin dibangun Rasulullah SAW telah mendapat kecaman dan ancaman yang sangat keras dari kaum Kafir, terutama dari kerabat Rasullullah SAW sendiri. Berbagai cibiran hingga perlakuan kasar ditujukan kepada Rasulullah SAW akibat keinginannya untuk mengubah perilaku ketidakmanusiawian penduduk Mekkah. Larangan mengeksploitasi kaum lemah, diskriminasi wanita dan budak, serta sistem perekonomian yang berbau kapitalis yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad SAW melalu wahyu-wahyuNya langsung mendapat respon keras dari kaum kafir Mekkah. Kerusakan mental ini tidak lain karena mereka selalu ingin diuntungkan dan apatis terhadap kaum lemah. Mentalitas yang terbangun adalah mentalitas kaum kapitalis. Peristiwa ini membuktikan, bahwa penduduk Mekkah menolak Nabi bukan karena fanatisme pada agama baru, tetapi lebih kepada misi kemanusiaan yang dibawa oleh Nabi yang nantinya akan merusak segala tatanan sosial di Mekkah yang telah menduduki zona aman bagi kaum eksploitator.

Keberhasilan Rasulullah SAW dalam membangun mental pengikutya terbukti dengan munculnya sahabat-sahabat yang berjiwa tangguh. Abu Bakar dengan gelar as-Shiddiqnya, Umar bin Khattab dengan gelar al-Faruqnya, Ali bin Abi Thalib dengan gelar keilmuannya, dan masih banyak sahabat yang lain dengan kelebihannya. Tidak hanya berhenti di era sahabat, di era tabi’in hingga sampai saat ini telah muncul banyak tokoh, baik laki-laki maupun wanita, yang tela banyak berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang sangat menakjubkan. Bukankah bukti sejarah telah menyebutkan, bahwa Islam telah hidup dengan memanusiakan manusia selama lebih dari delapan abad. Bani Ummayah hingga Khalifah Utsmaniyyah adalah bukti hebatnya mentalitas juang yang berjiwa kemanusiaan yang dibangun dengan apik oleh Rasulullah SAW. Maka tidak salah jika ada peneliti yang menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai orang paling berpengaruh di dunia. Begitu juga tidak patut untuk disalahkan -tanpa tabayun- jika patung Nabi Muhammad menjadi ikon Mahkamah Agung Amerika Serikat sebagai patron keadilan dunia.

Sebagaimana Hijrahnya Rasulullah SAW yang telah berhasil membangun mental kaum Muslim, dalam menyongsong 100 tahun kemerdekaan Indoenesia, saat ini gagasan revolusi mental kembali dicetuskan oleh Presiden Jokowi, setelah sekian lama terkubur sejak pertama kali digagas oleh presiden pertama republik Indonesia, Soekarno.  Gagasan ini menunjukkan betapa pentingnya membangun sumberdaya manusia yang beradab dan berperikemanusiaan untuk membangun kemajuan bangsa dari kemorosotan nilai-nilai luhur yang digagas oleh para pendiri bangsa.

Munculnya gagasan revolusi mental tentu dilatarbelakangi oleh berbagai fenomena. Manusia Indonesia, jika kita lihat saat ini, meskipun memiliki keerdasan yang luar biasa tetapi seringkali biadab dalam nilai. Dari berbagai hasil survey internasional, Indonesai mencapai nilai yang cenderung tinggi dalam hal yang baik dan sebaliknya dalam hal yang buruk. Bobroknya pemerintahan dengan sejuta kejutan yang menohok rakyat adalah bukti bahwa saat ini Indonesia benar-benar krisis nilai. Para pejabat yang selalu mementingkan perutnya, para pegawai yang digaji uang rakyat, dan para pecundang kemanusiaan saat ini sudah tidak lagi memikirkan hati rakyat. Pantas saja korupsi sudah merakyat karena mental kemanusiaan manusia Indonesia telah menjadi mayat.

Salah satu yang menyebabkan rusaknya mental manusia Indonesia adalah hilangnya kepedulian sosial. Sikap peduli mengajarkan kita untuk selalu menghargai orang lain dan patuh kepada peraturan yang telah ada, baik peraturan dunia maupun peraturan Ketuhanan. Coba kita mengapa kita perlu berhenti saat traficlight memberikan kode lampu berwarna merah. Lampu merah itu dinyalakan untuk mengamankan rambu lalu lintas. Jika terjadi pelanggaran, maka akan terjadi kecelakaan lalu lintas yang merupakan bukti bahwa seseorang sedang tidak menghargai orang lain dan tidak memandang orang lain untuk mendapatkan hak yang sama. Mungkin ini hal yang sepele, tetapi dampaknya begitu besar. Melanggar peraturan, berarti iman kita juga perlu dipertanyakan.

Berikut ini ada beberapa kisah menarik yang perlu kita cermati. Secuil kisah yang pernah dimuat di dalam koran kabar menuturkan bahwa orang Eropa itu memiliki level kebaikan yang tinggi. Hal itu terbukti ketika ada jurnalis Indonesia yang akan meliput berita sepak bola di Eropa mengalami kesulitan seorang supir taxi mencontohkan level kebaikan yang sangat luar biasa. Singkatnya, saat pertama kali jurnalis itu datang di London ia kebingungan mencari tempat liputan dan ia menanyakan kepada seorang supir taxi yang akan berangkat dengan taxi mewahnya. Saat itu, sopir taxi itu menjawab tidak tahu. Dengan kebingungan yang luar biasa, di tengah-tengah dia menunggu dengan posisi yang belum pindah tempat, si sopir taxi kemudian kembali mendatangi jurnalis dan mengatakan “saya tahu tempatnya, ayo ikut saya”. Tidak perlu berpikir dia harus membayar ongkos atau tidak, tetapi marilah kita lihat respon orang pribumi terhadap orang asing. Inilah kelemahan kita sebagai generasi muslim yang seringkali apatis terhadap lingkungan. Pertanyaannya adalah apakah level kebaikan sosial kita lebih tinggi dari orang Eropa atau lebih rendah.

Cerita kedua adalah tentang gerakan peduli tetangga atau dikenal dengan neighborhood di Australia. Gerakan ini mengharuskan setiap warga di Australia untuk menengok atau menjenguk tetangganya minimal sehari sekali. Warga diharuskan untuk memastikan kepergian tetangga dan melihat kondisi keluarga, apakah tetangganya itu sedang membutuhkan bantuan atau tidak, atau hanya sekedar untuk mengintip untuk memastikan bahwa dia telah menjalankan aktvitas wajibnya, seperti bekerja dan lainnya. Jika kita melihat model kehidupan masyarakat Jawa, gerakan peduli tetangga sesungguhnya adalah budaya kita. Bukanlah pemandangan asing saat kita melihat ibu-ibu desa memabantu ibu-ibu yang lain untuk menyusui saat anaknya menangis. Juga bukan hal yang patut kita kecam saat ada tetangga melaporkan kenakalan kita kepada orang tua kita. Atau sudah menjadi biasa saat ada tetangga memarahi kita karena kenakalan kita saat masa kecil. Inilah bentuk peduli orang-orang desa yang seharusnya tampak pada apapun fenomena. Bukankah saat ini kita lebih merasa dengan privasi kita.

Kisah didendanya orang Indonesia yang tidak mengahabiskan makanan di Jerman adalah salah satu bukti kepedulian orang-orang Jerman terhadap para fakir miskin dan sumber daya alam. Orang Jerman mengatakan, “uang memang milik kalian, tetapi sumber daya alam milik semua orang”. Dengan demikian, ketika kita tidak menghabiskan makanan kita sama saja telah membuang sumber daya alam yang seharusnya bisa diambil oleh orang lain. Membuang makanan sama saja dengan merampas hak makan orang di belahan bumi lain yang sedang kelaparan.

KH. Achmad Shampthon Masduqie, salah satu dewan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, pernah menyampaikan terkait sikap apatis masyarakat Islam. Di salah satu kesempatan ceramah, beliau yang juga sebagai Kepala Bidang Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah di Kementrian Agama Kota Malang mengatakan bahwa orang Islam itu masih dipertanyakan keimanannya apabila ia masih belum sepenuhnya menunjukkan kepedulian kepada orang di sekitarnya atau lingkungannya. Maka, apakah salah jika keimanan seseorang mahasiswa muslim itu dipertanyakan ketika ia melihat sampah berserakan di dalam kelas tanpa memungutnya. Apakah juga salah menganggap keimanaan seorang mahasiswa rendah saat ia tidak mengetahui kenapa teman sekelasnya tidak masuk kuliah. Apakah tidak dapat dibenarkan juga ketika seorang ulama ternama dari Mesir, Muhammad Abduh, yang mengatakan bahwa ia menemukan Islam di Eropa, tidak di tanah Arab.

Adalah kewajiban semua individu untuk terus berupaya membangun mental manusia yang memanusiakan manusia. Langkah pertama yang harus digalakkan adalah dengan dengan membangun individu melalui keluarga. Kehidupan keluarga merupakan pusat berhimpunnya kehidupan. Keluarga merupakan surga kebahagiaan. Spirit kebahagiaan keluarga akan dicapai dengan adanya rasa saling hormat dan kesetiaan yang tulus antar seluruh elemen disertai dengan kasih sayang yang jujur. Terlebih lagi, kebahagiaan itu akan tercapai dengan adanya rasa spirit mau berkorban dan mengutamakan orang lain. Jika aspek keluarga tertata dengan baik, maka aspek kemasyarakatan akan tertata dengan baik sehingga pada akhirnya akan mampu mambangun kemajuan bangsa dengan baik.

Salah satu cara untuk menumbuhkan mental manusia yang memanusiakan manusia adalah dengan memupuk kembali cinta suci yang sudah lama terpendam. Cinta suci dari Sang Maha Agung perlu dibuka kembali dengan membangun kecintaan kita kepada kekasihNya, Rasulullah SAW. Orang yang semakin cinta kepada Rasulullah SAW, ia tentu akan semakin cinta kepada Sang Khaliq. Kecintaan ini akan terwujud dengan mengamalkan segala apa yang telah dikomandokan oleh Sang Khaliq melalui kekasihNya. Praktis, misi ketuhanan akan memabwa misi kemanusiaan seutuhnya. Singkatnya, keimanan adalah tonggak utama untuk membentuk mental manusia yang luar biasa.

Demi menyongsong 100 tahun emas Indonesia, pemuda, termasuk para santri, adalah agen perubahan yang sangat potensial. Mereka sejak saat dini harus bisa menyerap nilai-nilai kemanusiaan. Keberhasilan mereka saat ini akan tampak pada kemajuan bangsa Indonesia. Sedangkan, kegagalan mereka adalah kesuraman Indonesia masa depan. Oleh karena itu, kita sebagai agen perubahan, mari kita bangun mental yang memanusiakan manusia. Dengan semangat juang untuk belajar multilevel keilmuan dan dibarengi riyadhoh bathiniah, kita akan mampu membawa bangsa ini hijrah menuju peradaban termewah sepanjang masa. Mari kita ilhami, awal tahun baru Islam ini sebagai awal perubahan menuju revolusi mental manusia jauh dari jiwa bebal.

Semangat Hijrah untuk revolusi mental manusia Indonesia.

Oleh : Muhammad Nur Hadi (CO Tim Redaksi Nun Media)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: