Abdul Butun bin Milenial, Sebuah Refleksi Muharram

Entah tak tau bagaimana, sekitar 3 tahun belakangan ini setiap kali saya hendak memasuki bulan Muharam hati saya selalu mbatin dan selalu merasa kangen atas pertolongan Tuhan. Lebih-lebih lagi kalau saya harus mengingat-ingat  akan peristiwa-peristia heroik dalam sejarah agama saya yang kok ya ndilalah pas bertepatan juga di bulan Muharam. Pikiran saya ini selalu dihantui rasa penasaran yang begitu hebat bila harus mengingat Mbah Nabi Adam yang diturunkan di bumi dan ditakdirkan berpisah dari kekasihnya, Mbah Siti Hawa, yang pasti dicintainya itu. Belum lagi Mbah Nabi Idris yang diangkat oleh Allah ke langit. Alangkah betapa senangnya bisa bertemu Tuhan secara langsung, ia bisa curhat langsung. Mbah Nabi Nuh yang oleh Allah dikeluarkan dari perahunya selama kurang lebih 6 bulan terapung-apung,  Mhah Nabi  Ibrahim yang diselamatkan dari ganasnya kobaran nyala api keduniawian Raja Namrud, laut merah yang membelah disaat Mbah Nabi Musa memukulkan tongkat, dan lain-lain.

Hal tersebut terus terang saja justru mengingatkan saya akan nikmatnya punya Tuhan, nikmatnya karunia dan kasih sayang Tuhan dan kadang saya justru agak sedikit nglobi dalam doa saya sewaktu sehabis sholat isya’ tadi “ mbok yo’o panjenengan (Allah) Tulung juga to Gusti (Allah) bangsa Indonesia, kedik kemawon mboten nopo-nopo minimal pemimpin kulo engkang dorakus niki katah engkang sleleken terus  pejah ngoten, nek pancen dereng katah engkang sempat terbukti utawa ngaku” ini mumpung datang bulan muharam” begitulah doa saya tadi, sungguh.

Meskipun pada dasarnya saya ya nggak begitu merasa perlu punya negara atau tidak, tapi bagaimana pun juga Tuhan sudah kasih ketetapan pada saya bahwa saya harus terlahir dan tinggal di sini, maka boleh dong kiranya saya yang gembel begini  ikutan  nguruni do’a buat ndan-ndani Negara ini.

Bagaimana tidak galau ta saya ini, lawong ya sudah terlanjur menjadi kebiasaan umum umat Islam sendiri yang mana pada bulan muharam ini biasanya banyak masyarakat muslim yang melakukan “fastabikul khoirot “  yang antara lain :puasa matek aji, meluaskan belanja pada keluarga, bersedekah, menyantuni anak yatim, bahkan  tak sedikit juga yang melakukan wirid, entah itu yang bersifat pribadi maupun bersama, mumpung bulan muharam. Yang kesemuanya itu bagi kacamata diri saya yang gembel ini adalah sebuah keharmonisan, keindahan dan kebaikan tersendiri dalam perjalanan hidup, entah berdimensi fertikal maupun horizontal, yang memang terasa baik dan juga indah. Tapi ko ya ndak ada efeknya sama sekali bagi program pengentasan pemiskinan, prilaku diskiminatif maupun belenggu kedholiman, korupsi semisal, yang makin hari makin merajalela ini. Padahal ya kalo ditarik pada garis di bulan sebelumnya, bulan Muharam ini unda-undi loh dengan  peristia perayaan idul qurban, idul fitri, puasa romadhon dan berzakat, yang bagi saya keseluruhan momentum peristiwa itu  merupakan peristiwa hari kasih sayang juga.

Kenyataan seperti inlah yang selalu membentur di kepala saya, sehingga menyebabkan saya ini kadang galau sendiri.  Sebenarnya dimana letak ketidaktepatan saya atau kita dalam berproses menjadi manusia wakil Allah yang rohmatan lil alamin ini? Apa jangan-jangan karena saking asyiknya kita dalam kegiatan berbagai momentum peringatan tadi itu, yang semakin dituntut untuk kemeriahan ini, justru kita lupa akan esensial dalam sebuah peringatan dan cenderung lupa diri  yang inginnya menang atas golongan sendiri ini ya? Maka Tuhan kasih sekenario seolah-olah kita diberi nikmat meskipun pada dasarnya Tuhan sebenarnya Ngelulu.

(Ya, sekali lagi semoga ini merupakan kegalauan yang dholim juga, hehe)

Oleh : Nizam Ubaidillah (Anggota Tim Redaksi Nun Media)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: