Santunan Yatim Piatu: Ritual dalam Perspektif Sosiologis

MENGHARUKAN – Ning Imaroh dan Ning Badi’atus Shidqoh dalam prosesi mengusap kepala anak yatim piatu pada malam perayaan Asyuro.

Sesungguhnya terdapat empat bulan haram diantara dua belas bulan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Empat bulan tersebut adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab (HR. Al Bukhari dan Muslim). Bulan muharram merupakan salah satu bulan yang diharamkan oleh Allah SWT. Sejarah islam menerangkan bahwa pada bulan ini masyarakat Arab dilarang berperang sebab bulan Muharram adalah bulan Allah yang sunyi sehingga Allah tidak menghendaki adanya pertumpahan darah didalamnya.

Disisi lain, bulan muharram adalah bulan yang cocok untuk berpuasa sunnah, dan melakukan segala sesuatu yang dicintai Allah seperti halnya bersedekah, berinfak, dan menyantuni anak yatim piatu. Iya, selama ini santunan anak yatim menjadi kegiatan yang identik dengan perayaan Muharram.

Menyantuni anak yatim adalah sebuah implementasi nyata betapa indahnya islam. Islam rahmatallil alamin. Islam tidak hanya mengajari kita bagaimana cara berhubungan dengan Allah (hablun minallah), akan tetapi islam juga mengajarkan bagaimana berhubungan baik dengan sesama manusia (hablun minannaas). Salah satu manifestasi nyata dari hablun minannaas ini ya dengan menyantuni anak yatim.

Islam sangat memuliakan bagi siapa saja yang tergerak hatinya untuk menyantuni anak yatim. Hal tersebut jelas-jelas diterangkan di beberapa ayat dalam Al-quran dan juga hadits nabi. Seperti hadits nabi SAW berikut ini:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئا

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. [HR al-Bukhari no.4998 dan 5659]

Dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang menyantuni anak yatim di dunia, akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah SAW. Oleh karena itu umat islam yang sejatinya berjiwa sosial tinggi sudah seharusnya memiliki kepekaan dan juga kepedulian yang tinggi pula terhadap kehidupan anak yatim. Rasa empati sosial dalam Islam diwujudkan dengan tindakan-tindakan nyata, bukan sekedar pengakuan.

Dalam konteks sosial menyantuni anak yatim merupakan wujud kepekaan terhadap fakta sosial yang terjadi di masyarakat. Bagaimana memunculkan kepekaan masyarakat terhadap kehidupan anak-anak yatim di lingkungan sekitar. Bagaimana masyarakat bisa mengetahui betapa mereka membutuhkan kasih sayang, santunan, dan perlindungan. Oleh karena itu kepekaan sosial ini akan menjadi sebuah tindakan nyata apabila masyarakat memiliki kesadaran kolektif (collective conciousness).

Kesadaran kolektif yang terjadi dalam masyarakat akan membuahkan nilai-nilai. Kemudian masyarakat menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai sesuatu yang ideal dan dipercayai oleh masyarakat secara kolektif merujuk pada norma dan kepercayaan bersama. Sedangkan menyantuni anak yatim dilakukan atas dasar nilai-nilai ideal yang ada dalam agama Islam. Sehingga kemudian muncul sebuah integrasi sosial dari umat islam yang menyatu dalam collective conciousness.

Dalam agama islam integrasi dan solidaritas sosial sangat diutamakan. Umat islam terintegrasi atas dasar nilai-nilai bersama yang diyakini sesuai fungsi dalam suatu masyarakat. Fungsionalisme dalam islam tentunya sudah diatur dalam nilai-nilai yang terkandung pada al-quran dan hadits. Adapun fungsionalisme dalam ruang lingkup santunan anak yatim ini terlihat pada peran umat muslim (yang mampu secara finansial) berbagi atas rizki yang dimiliki kepada anak yatim. Disinilah sebuah keterikatan sosial terjadi.

Umat islam sangat menyakralkan segala sesuatu yang dipercayai sebagai ibadah, menyantuni anak yatim adalah salah satunya. Maka tak heran ketika banyak umat islam berusaha melakukan ibadah ini. Meskipun begitu, tetap masih ada pihak yang bertentangan seperti dengan tidak memberikan santunan meskipun dia mampu secara finansial. Akibatnya, akan muncul cap atau anggapan dari masyarakat seperti “orang kikir dan pelit” sebagai sebuah sanksi sosial bersifat represif yang tidak lain sebagai bentuk kemarahan kolektif masyarakat terhadap individu yang melanggar keteraturan sosial dalam kehidupan umat islam.

Akhir kata, sebagai umat islam yang menginginkan terjaganya ukhuwah, menjadi sebuah kewajiban bersama untuk meningkatkan kepekaan sosial kita melalui kesadaran kolektif dan peran kita masing-masing sesuai dengan ajaran islam yang diterangkan dalam al-quran dan hadits. Terlebih dalam era globalisasi saat ini dimana kebanyakan manusia berubah menjadi pribadi yang individualis, bergaya hidup hedonis, dan berperilaku apatis. Hal ini yang kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi umat islam dalam membudayakan nilai-nilai kehidupan yang sosialis dan juga humanis. Oleh karena itu kegiatan-kegiatan dalam ranah sosial perlu dilakukan oleh umat islam di berbagai kesempatan. Terlebih pada bulan-bulan yang diistimewakan Allah SWT seperti bulan muharram.

Penulis: Qoni’atul Hidayah

Editor: Nunung Nasikhah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: