Jeruji Segregasi Dan Persekusi Muslim Rohingya

MENYEDIHKAN: Oleh karena tindak kekerasan yang terus berlanjut, ribuan muslim Rohingya melarikan diri mencari suaka (sumber: Warta Ekonomi)

Gempa Bumi Mexico, Perang Nuklir, Badai Harvey, Krisis Rohingya. Serangkaian bencana baik alam maupun kemanusiaan yang terjadi akhir-akhir ini seakan menunjukkan bahwa dunia sedang berada pada titik nadir. Atau, jangan-jangan, Tuhan Sedang Marah?

Krisis Rohingya 2017 mengulik kembali luka lama Genosida Srebrenica 1995. Sementara Genosida Srebrenica membantai 8.373 muslim Bosnia dan mengusir 30.000 warga sipil dari kampung halamannya, genosida Rohingya menewaskan puluhan muslim dan menjadikan 400.000 individu merdeka menjadi pencari suaka. Jika Junta Militer dan ekstrimis Buddhist mengatasnamakan pembumihangusan desa di distrik Rakhine serta pemasangan ranjau darat di perbatasan Myanmar-Bangladesh kemarin sebagai reaksi pembelaan atas penyerangan ARSA (Arakan Rohingya Salvation Army) terhadap 25 pos polisi militer Myanmar, maka sebutan apalagi yang lebih pantas bagi tindak kekerasan, persekusi, segregasi, pencabutan kewarganegaraan dan propaganda Burma atas etnis Rohingya selain Genosida?

Rohingya di Myanmar bukanlah pendatang apalagi imigran gelap. Mereka telah menetap di pesisir barat Rakhine sejak awal abad 12. Oleh karena tindak kekerasan dan persekusi yang terus berlanjut, ribuan muslim Rohingya melarikan diri menuju negara tetangga baik melalui jalur darat maupun laut. Tercatat sejak akhir 1970, kurang lebih satu juta Rohingya melarikan diri dari Myanmar dan tersebar di Bangladesh, India, Malaysia, Thailand, Indonesia, Papua Nugini, dan beberapa negara lainnya.

Pelarian diri umat etnis Rohingya menghindari kekejaman junta militer dan ekstrimis Buddha Myanmar –jika  boleh menganalogikan– serupa dengan yang telah terjadi seribu lima ratus tahun yang lalu. Rasulullah yang sudah tidak tahan menyaksikan penderitaan para sahabat atas kekejaman kafir Quraisy memerintahkan ummatnya berhijrah menuju Habsyah. Mereka sama-sama rela meninggalkan kampung halaman demi menjaga iman. Terombang-ambing di lautan lepas agar dapat berislam dengan bebas. Berjalan kaki ratusan mil demi menjadi muslim kamil. Perbedaannya, Habasyah kala itu adalah negara yang aman dan sahabat nabi mendapat perlindungan dari raja Negus. Sedangkan Rohingya? Mereka menggantungkan banyak harapan pada Bangladesh sedangkan Bangladesh sendiri hanyalah negara miskin yang separuh warga negaranya pengangguran.

Bagaimanapun, langkah etnis Rohingya berhijrah untuk mendapatkan kembali Hak Asasi Manusia patut diapresiasi, bukan? Bentuk apresiasi itu jelas bukan hanya sekedar tepuk tangan. Melainkan dengan kiriman doa, kiriman bantuan, serta upaya untuk meneladani Hijrah mereka. Hijrah Rohingya sebagaimana hijrah Rasul dan para sahabat dapat diartikan dengan tiga makna: Hijrah insaniyah (transformasi dalam nilai-nilai kemanusiaan), Hijrah Tsaqafiyah (perbaikan dalam kebudayaan), dan Hijrah Islamiyyah (peralihan kepasrahan kepada Allah secara total).

Hijrah insaniyah dapat diwujudkan dengan meningkatkan kepekaan atas isu-isu global serta melatih diri untuk memandang manusia dengan pandangan kasih sayang, bahwa manusia adalah sama dan memiliki hak-hak yang sama. Dengan berbekal kesadaran akan persamaan derajat tersebut, diskriminasi jelas tidak mungkin terjadi. Peradaban yang menjunjung tinggi asas ekualitas dan fraternitas akan tercipta sebagai pengejawentahan Hijrah Tsaqafi. Hijrah Islamiyyah, di sisi lain, lebih mengedepankan perbaikan hubungan manusia dengan Tuhannya. Modernitas tak ayal membuat manusia lebih mengedepankan rasionalitas dan silap akan eksistensi Tuhan. Invensi, rasionalitas, dan nurani seharusnya menjadi sekutu yang solid dalam pembuktian akan kerumitan dan harmoni maha karya Tuhan. Manusia, seberapapun hebatnya, hendaklah menyadari bahwa ia tidaklah lebih dari sekedar wayang. Sebagaimana wayang, ia tidak akan bisa melakukan apapun kecuali atas kehendak dalang.

Menilik kembali sejarah islam seribu lima ratus tahun silam saat muslim akhirnya berjaya dengan adanya Fathu Makkah, mungkinkah Fathu Rakhine juga Allah anugrahkan bagi suku Rohingya? Atau jangan-jangan Muslim Rohingya akhirnnya bernasib sama seperti Muslim Bosnia, Sabra dan Shatila? Wallahu a’lam.

Penulis: Rofi’atul Mukaromah

Editor: Nunung Nasikhah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: