6 Resolusi Tahun Baru ala Santri

Bagi santri, tahun baru Islam menjadi moment tepat untuk memulai sebuah perubahan dengan tujuan membenahi diri menjadi pribadi yang lebih baik. Sebab insan yang baik adalah dia yang masa kininya lebih baik dari masa lalunya. Meski segala sesuatu bergantung pada kehendak Allah, perubahan tidak serta merta terjadi tanpa upaya memulai perubahan tersebut dari diri sendiri.

“… sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (QS. Ar-ra’d:11 )

Oleh sebab itu, kita bisa memulainya dengan menentukan target pencapaian yang ingin diraih pada tahun ini dengan upaya-upaya versi nun-media sebagai berikut.

  1. Karena menjadi ta’at perlu penguat, jangan lupa menata niat

Manusia diciptakan agar dia beribadah kepada Allah, seperti dikabarkan dalam Q.S adz-Dzaariyaat: 56. Perlu diketahui bahwa bentuk ibadah kepada Allah tidak hanya ritual shalat, puasa, zakat dan lainnya. Segala hal yang dilakukan oleh manusia insya Allah bisa dinilai sebagai ibadah tatkala niatnya dikabulkan semata-mata karena Allah. Jadi, tetapkanlah dalam hati bahwa semua kebaikan yang dilakukan ditujukan agar mendapat ridha Illahi .

 

  1. Agar amunisi hati terisi tiada henti, senantiasalah berbagi

Tidak hanya perut yang butuh asupan, hati juga mengalami kelaparan. Sebab manusia dibekali nafsu, sering kali keresahan tidak luput melanda ketenangan hati. Berbagi tidak harus melulu memberikan sesuatu yang fisiknya berwujud. Tenaga, waktu, bahkan senyum akan sangat berharga jika diberikan pada mereka yang memerlukan. Selama tidak berbagi hal-hal yang merujuk pada maksiat, insya Allah bermanfaat.  Jadi, jika ingin merasakan kebahagian hakiki, cobalah sering-sering berbagi.

 

  1. Tidak ada yang tahu hari esok akan datang, makanya jangan bikin molor semakin panjang

Menunda pekerjaan adalah awal kerugian sebab pada hakikatnya setiap orang akan mengalami hari yang berbeda setiap harinya. Sehingga, semakin hari semakin bertambahlah pekerjaan seseorang jika pekerjaan yang satu tidak lekas dikerjakan. Allah memerintahkan agar seseorang mengerjakan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh agar dapat beralih mengerjakan pekerjaan lainnya.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (QS. Al Insyiroh: 7)

Di tahun baru ini, mari sudahi kebiasaan buruk yang membuat kita merugi.

 

  1. Sebab memilih teman jangan sembarangan, utamakan si pembawa kebaikan tetap jadi pilihan

Di tahun yang baru, kita sudah saatnya meningkatkan ketaqwaan kepada Allah karena semakin hari usia kita semakin berkurang. Dalam mencari teman yang baik, dewasa ini kiranya sulit didapatkan. Sekalipun di pesantren, tidak semua santri bisa diandalkan, banyak dari mereka yang masih bermalas-malasan. Padahal seorang santri harus senantiasa terhindar dari sifat malas, si penyakit mematikan utama bagi pembelajar.

Salah satu wazan yang bisa digunakan adalah adalah bahwasanya seorang teman yang baik adalah dia yang bisa mengingatkan kita agar senantiasa berbuat baik. Contoh kecilnya, teman yang baik adalah dia yang tidak akan membiarkan kita terlelap di kala salat menjelang. Atau tidak pernah tak acuh ketika kita tidak turut pengajian. Sekali teman, selamanya tetap teman hingga Jannah, maka teman yang baik adalah dia yang senang mengingatkan perbaikan.

 

  1. Banyak hajat yang datang terlambat, barangkali kurang tirakat

Bagi santri, tirakat bukan lagi hal asing. Setiap santri diwajibkan untuk tirakat agar bisa mengekang hawa nafsunya sebagai upaya menjaga diri dari perbuatan maksiat sehingga dalam prosesnya mencari ilmu diberikan kemudahan. Imam Syafi’i pernah memberikan wasiat bahwanya, “Ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah (hidayah) tidak diberikan kepada ahli maksiat”.

Di tahun yang baru, sudah seyogyanya bagi santri untuk meningkatkan shalat jamaah, shalat-shalat sunah, puasa, shodaqah, dan ibadah lainnya. Mudah-mudahan dengan memperkuat tirakat, ilmu manfaat mudah didapat serta hajat-hajat yang dikabulkan semakin dekat.

 

  1. Agar boyongan terlaksana dengan lancar dan aman, tambah terus dan perbanyak hafalan

Tidak patut bagi seorang santri malas belajar, sebab terdapat banyak materi yang harus dipelajari oleh seperti ilmu alat, fiqih, tauhid, hadist, al-Quran dan lain sebagianya. Pelajaran-pelajaran tersebut akan sangat bermanfaat untuk digunakan pada saat hidup terjun ke masyarakat. Oleh karena itu, sebelum waktu boyong datang mulailah benahi hafalan-hafalan yang pernah dipelajari.

 

Setiap seseorang pasti menginginkan kebahagiaan. Setiap Muslim meyakini bahwa kebahagiaan yang didambakan bisa datang dari kebaikan. Dengan demikian, sebagai insan yang berupaya mengindahkan hari kininya daripada hari lalunya, pada moment tahun baru ini mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan mulai dengan menetapkan target yang bisa mengantarkan pada kemajuan yang direncanakan.

Semoga Allah azza wajala memudahkan.

 

Penulis: Tika Kartika

Editor: Nunung Nasikhah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: